Home » Kisah Inspirasi » Detil

Kamis, 14 September 2017

Keterbatasan Bukan Halangan Meraih Prestasi

Lelaki berkulit sawo matang itu tampak lantang memberikan instruksi kepada para atletnya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi guratan wajahnya menunjukan keyakinan bahwa timnya akan memperoleh kemenangan. Marizul namanya, “Panggil aja Bang Marizul” ucapnya di awal obrolan. Ia adalah pelatih SLB Sekar Meranti.

SLB tersebut adalah salah satu SLB yang terletak di Kabupaten Kepulauan Meranti, mereka merupakan salah satu tim peserta dalam kompetisi sepak bola yang diadakan oleh Special Olympics Indonesia yang bekerjasama dengan HSBC 14 Mei 2017 di Lapangan SPN, Pekanbaru, Riau.

Butuh waktu 5 sampai 6 jam untuk sampai di Pekanbaru, Riau. “Meranti ini Kabupaten pecahan dari Bengkalis, perjalanan dari Meranti ke Pekanbaru hampir 5-6 jam. Kita berangkat dari Meranti dari jam 8 pagi, sampai di Pekanbaru sekitar jam 12 siang,” ujarnya.

Awal mula ia dapat melatih anak-anak penyandang disabilitas intelektual yaitu ketika ia diminta langsung oleh Kepala Sekolah SLB Sekar Meranti. Ia mengaku bahwa inilah kali pertama ia melatih anak-anak disabilitas intelektual.

“Ini merupakan kali pertama saya melatih anak-anak DI. Awalnya saya kesulitan untuk memahami mereka. Cuma tak mungkin kita selalu emosi karena kita tau keadaannya sudah seperti itu, Cuma kontrol emosi aja ke mereka,” ungkapnya.

4 hari bukanlah waktu yang panjang untuk melatih. Apalagi siswa SLB Sekar Meranti minim pengetahuan tentang cara bermain bola yang benar. Namun di tengah keterbatasan tersebut, kecerdasan Bang Marizul dalam memanfaatkan waktu yang singkat tersebut dibuktikan dengan langsung melatih atlet-atletnya cara bermain sepak bola dan cara menyerang tim lawan.

SLB Sekar Meranti awalnya bukanlah tim yang diunggulkan. Apalagi menurut Bang Marizul para atletnya tidak pernah sekalipun mengikuti ajang kompetisi di daerahnya. Ia juga mengaku bahwa masih banyak tim-tim yang permainannya jauh lebih baik daripada timnya salah satunya adalah Bengkalis. “Menurut saya lawan terberat kami adalah Bengkalis. Karena Bengkalis itu kan unified partner ada 2 yang saya lihat, sedangkan tim saya Cuma 1 yang unified partner-nya. Jadi tak seimbang,” ujarnya.

Disamping tidak memiliki pengalaman dalam ajang kompetisi, hambatan lainnya yang dihadapi yaitu pada saat berkompetisi, para atlet tidak menggunakan alas kaki. Padahal alas kaki merupakan hal penting dan atribut wajib yang harus dipakai oleh para atlet. Hal inilah yang sempat membuat Tim Sekar Meranti hampir didiskualifikasi oleh panitia.

“Saat latihan tidak pakai alas kaki karena latihan mepet sekali. Anak-anak ini pun yang tidak punya sepatu juga. Saya sangka, perlengkapan untuk anak-anak ini sudah ada di Dinas jadi kami pergi saja dan tinggal main. Sampai di sana akhirnya tidak ada perlengkapan,  jadi dengan keadaan kita yang terlanjur pergi, terpaksa aja kita ikut. Mau bilang apa kita. Saat itu saya cuma tanya sama panitia pada malam itu bagaimana peraturannya pak? Kata panitianya kan harus pakai sepatu, Cuma langsung saya tanya anak-anak saya tidak bawa sepatu. Bagaimana pak? Apakah panitia tidak menyiapkan sepatu? Tidak katanya. Mungkin baju bola dipersiapkan. Cuma perlengkapan alas kaki tidak ada. Makanya tanggung sendiri. Malam itu saya bingung bagaimana saya pinjam. Jadi itulah, kami pandai-pandainya saya aja yang mengulur anak-anak ini. Akhirnya pakai alas kaki memang dituntut sama panitia seandainya tidak ada alas kaki tidak bisa main makanya pas di lokasi pertandingan kita usahakan pinjam dengan tim lain,” ujarnya.

Di balik hambatan yang dialami oleh tim, namun berkat kegigihan dan kekompakan timnya, serta koordinasi yang baik dengan para atletnya, SLB Sekar Meranti berhasil meraih kemenangan dengan meraih medali emas di ajang kompetisi tersebut.

Bang Marizul merasa bangga dengan para atletnya. Ia tidak menyangka bahwa akan memperoleh medali emas pada kompetisi ini walaupun ia belum berpengalaman dalam melatih cabang olahraga sepakbola khusus penyandang disabilitas intelektual. Ia mengaku bahwa ia akan bersedia apabila ditunjuk lagi sebagai pelatih sepakbola untuk anak-anak disabilitas intelektual.

“Saya tidak menyesal melatih anak-anak disabilitas ini, justru saya bangga membawa anak-anak ini bisa menjadi juara. Jangan melihat orang dari kekurangannya. Kita lihat kemampuannya. Mereka ini sama seperti kita, sama-sama manusia. Jangan menganggap kita ini lebih baik dari mereka. Kalaupun saya diberikan kesempatan untuk melatih mereka lagi, insya allah saya siap walaupun dengan cara saya sendiri.” Tutupnya di akhir obrolan.

Lainnya:

Jumat, 20 September 2019
Perenang Yang Sayang Amak
Kamis, 22 November 2018
Mengukir Prestasi Melalui Futsal
Jumat, 14 September 2018
Reach For The Best

Our Partner:

Special Olympics Indonesia

Gedung DNIKS , 3rd floor - Jl. Tanah Abang Timur, No. 15 - Jakarta Pusat 10110
Telp: +62 (21) 3800501 - Fax: +62 (21) 3846556

Webmail Facebook Twitter Hubungi Kami Kebijakan Privasi Syarat Penggunaan

© 2019 Special Olympics Indonesia