Home » Kisah Inspirasi » Detil

Kamis, 19 Oktober 2017

Harison Sirait, Dari Relawan Hingga Menjadi Pelatih

Salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) nampak ramai dipenuhi anak-anak yang pulang sekolah. Tidak berapa lama, sosok laki-laki tegap menghampiri kami, ia menyapa dan mempersilakan kami masuk ke area Sekolah. Ia adalah Harison Sirait, ‘Bang Harison’ sapaan akrabnya merupakan salah satu pelatih SOIna khusus cabang olahraga renang. Selain melatih, saat ini ia juga mengajar di SLB Dian Grahita, di kawasan Kemayoran, Jakarta Utara.

Cerita bermula ketika ia menjadi relawan saat diselenggarakannya persiapan PORTUNAGRA (Pekan Olahraga Tunagrahita) tahun 1994 di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun. Sejak saat itulah ia mulai mengenal SOIna dan menjadi pelatih untuk pertama kalinya.

Ia mengaku bahwa menjadi seorang pelatih dan juga guru untuk anak-anak disabilitas intelektual merupakan kegiatan yang menyenangkan dan juga menjadi suatu tantangan tersendiri untuknya. “Mereka pribadi yang menarik, ramah, mudah diajak bekerjasama, walaupun ada diantara mereka yangsulit diajak berkomunikasi, tetapi itu menjadi tantangan sendiri bagi saya,” ucapnya.

Pria yang menempuhpendidikan di Universitas Negeri Jakarta tahun 1989 ini bercerita bahwa ia tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan anak-anak penyandang disabilitas. Menurutnya, justru yang menjadi kendala adalah anak-anak disabilitas intelektual yang membutuhkan rentang waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

“Untuk orang umum tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri dengan mereka, tapi mereka yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Rentang masa penyesuaian juga berbeda antara yang satu dan lainnya," Ujarnya.

Selama menjadi pelatih, Bang Harison mengaku mendapat banyak pengalaman berhargadalam melatih anak-anak penyandang disabilitas intelektual. Misalnya saat melatih salah satu atletnya, Amos, salah satu anak yang dianggap biasa saja namun berhasil memperoleh emas di PORNAS Bandung tahun 1998yang menjadi awal mula prestasi luar biasa lainnya di tingkat internasional seperti di Dublin, Irlandia. Eko, atlet cabang lompat jauhyang dilatihnya juga berhasil menorehkan medali di Dublin, Irlandia.

“Dulu tidak bisa melompat sama sekali selain karena postur tubuhnya yang kurang mendukung ditambah pengalaman gerak yang rendah. Lalu dilatihlah di Sekolah, latihan juga di Rawamangun. Saya angkat badannya, saya tolakkan, dsb sampai di Dublin dia dapat medali emas.”

Pengalaman berharga lainnya juga ia dapatkan ketika kunjungan resmi CEO Special Olympics Timothy tahun 2007 ke Jakarta. Ia diberi kesempatan untuk menemani Timothy ke Gereja, wawancara, penandatanganan nota kesepahaman dengan KONI dan Gubernur DKI Jakarta, dsb.

Selama pengalamannya melatih anak-anak disabilitas intelektual, ia mengaku bahwa kesalahpahaman dengan atlet kerap terjadi. Namun, Bang Harison mencoba meminimalisir dengan melakukan pendekatan dengan para atletnya. “Kesalahpahaman bisa jadi karena adanya kesalahan komunikasidan kurang dekatnya pelatih dengan atlet. Semakin dekat pelatih dengan atlet kesalahpahaman akan dihindari. Karena beberapa atlet-atlet kadang lebih memanfaatkan bahasa tubuh dan isyarat-isyarat. Tapi dengan faktor kedekatan intens bisa diminimalisir.”

Dalam setiap kesempatan, ia juga tak lupa untuk selalu mengingatkan para pelatih-pelatih muda bahwa jangan selalu membandingkan kemajuan-kemajuan anak-anak penyandang disabilitas intelektual dengan orang-orang pada umumnya. Ia mengatakan bahwa selalu hargai perubahan-perubahan kecil dari anak-anak tersebut.

“Saya selalu mengingatkan kepada teman-teman khususnya pelatih muda bahwa melatih anak-anak penyandang disabilitas tidak melulu harus dibandingkan dengan orang lain. Misalnya dulu hanya mau jalan 10m sekarang sudah mau jalan 15m artinya sudah ada prestasi yang sudah ditorehkan. Misalnya juga melompat, dulu belum bisa melompat tetapi karena mungkin pelatihnya melatih dengan cara yang baik, terarah, dan terukur pada akhirnya bisa melompat dengan baik walaupun jarak tidak melulu menjadi suatu patokan yang utama apalagi bila dibandingkan dengan temannya. Perubahan sedikit apapun, pelatih harus melihat itu sebagai suatu kemajuan. Itu pola pemantauannya.” Ujar Bang Harison.

 

Lainnya:

Jumat, 20 September 2019
Perenang Yang Sayang Amak
Kamis, 22 November 2018
Mengukir Prestasi Melalui Futsal
Jumat, 14 September 2018
Reach For The Best

Our Partner:

Special Olympics Indonesia

Gedung DNIKS , 3rd floor - Jl. Tanah Abang Timur, No. 15 - Jakarta Pusat 10110
Telp: +62 (21) 3800501 - Fax: +62 (21) 3846556

Webmail Facebook Twitter Hubungi Kami Kebijakan Privasi Syarat Penggunaan

© 2019 Special Olympics Indonesia