Home » Berita Pusat » Detil

Kamis, 21 Maret 2019

Tak Hanya Melatih, Fathan Berperan Sebagai Orangtua

Pelatih selalu menjadi sosok penting dalam perkembangan seorang atlet. Di Special Olympics, peran pelatih menjadi semakin penting karena mereka tak sekadar melatih, tapi juga menjadi pembimbing dan bahkan orang tua bagi para atlet Special Olympics.

Itulah yang dirasakan Mohammad Fathan, yang ditunjuk menjadi pelatih cabang boling Kontingen Special Olympics Indonesia, SOIna, untuk Special Olympics World Games 2019, di Abu Dhabi, 14-21 Maret.

Ini pertama kalinya Fathan terlibat sebagai pelatih di Special Olympics Indonesia. Sebelumnya, pria yang juga perwira aktif di Markas Besar TNI -AL ini pernah terlibat sebagai pelatih fisik tim bowling Indonesia untuk SEA Games dan Asian Games.

“Karena background saya di bowling, Pak Mustara mempercayakan posisi pelatih bowling pada saya. Saya sendiri tidak terlalu asing dengan SOIna karena sebelumnya saya pernah terlibat dalam Pornas dan Peparnas sebagai pelatih,” katanya.

Dengan keterlibatan sebagai wasit, Fathan sudah memiliki sedikit bayangan tentang apa yang akan dihadapinya di Pemusatan Latihan SOIna, yang dimulai pada 4 Februari lalu. Tapi, menurutnya apa yang dibayangkan cukup jauh dari kenyataan di lapangan.

“Karena di SOIna ada banyak cabang yang diikuti oleh atlet Special Olympics yang memiliki high ability, begitu juga yang saya bayangkan. Tapi kondisinya berbeda di bowling karena menurut regulasi internasional, cabang bowling memang untuk atlet dengan low ability. Dan, saya menangani atlet down syndrome,” ujar pria berpangkat kapten ini.

Kontingen SOIna mengirimkan dua atlet dengan down syndrome di cabang bowling, yaitu Ferdhi Ramadhan dari Jakarta dan Roma Mauli Maria asal Riau.

Kata Fathan lagi, dirinya tak hanya melatih tapi juga terlibat dalam kehidupan mereka sehari-hari, bahkan hingga mengurus hal-hal lain, seperti makan atau buang air. Berbagai pengalaman menarik pun sempat dialaminya, seperti harus membersihkan kotoran karena si atlet sudah terlanjur buang air besar di kamar.

“Awalnya saat masuk pelatnas saya kaget karena ini sama sekali baru buat saya. Misalnya soal buang air kecil. Mereka tidak akan bilang kalo mereka mau kencing. Maka, saya yang harus memperkirakan. Kalau si atlet minum banyak, maka dalam satu hingga dua jam saya harus tanya apakah dia mau kencing,” ucapnya.

Untuk mengakalinya, Fathan membuat jadwal untuk Roma dan Adi. Alhasil, keduanya mulai mengerti dan bisa mengikuti setiap arahan dari Fathan. Mereka juga percaya dan merasa nyaman dengan pelatihnya.

“Kita harus tahu polanya sehingga bisa beradaptasi dan membuat mereka nyaman. Jika mereka merasa nyaman, tugas kita juga jadi lebih mudah. Mereka belum tentu mau didampingi oleh sembarang orang. Roma bahkan tidak mau jika dia tidak kenal orangnya. Selain itu, mereka juga bisa tahu jika orang yang mendampingi mereka tidak tulus,” kata pria yang bertugas sebagai Kaur Sarana Pembinaan Jasmani Detasemen Mabes TNI-AL ini.

Untuk memperbanyak pengetahuan, Fathan juga banyak berdiskusi dengan sesama rekan pelatih yang sudah lama berkecimpung di SOIna. Dari berbagi pengalaman itu, dia mendapat banyak tambahan pengetahuan praktis untuk menangani atlet penyandang disabilitas, khususnya down syndrome.

“Awalnya, saya sempat bertanya pada diri sendiri apakah saya bisa melakukannya karena dengan latar belakang sebagai perwira TNI saya belum pernah terlibat di SOIna sebagai pelatih. Tapi, di sisi lain saya melihat keterlibatan ini sebagai keberkahan dalam hidup saya,” katanya.

Lainnya:

Senin, 14 Agustus 2017
SOIna Event: Family Training

Our Partner:

Special Olympics Indonesia

Gedung DNIKS , 3rd floor - Jl. Tanah Abang Timur, No. 15 - Jakarta Pusat 10110
Telp: +62 (21) 3800501 - Fax: +62 (21) 3846556

Webmail Facebook Twitter Hubungi Kami Kebijakan Privasi Syarat Penggunaan

© 2019 Special Olympics Indonesia